Indonesia Berqurban, Bangsa & Dunia Menikmatinya

Bugis atau Jawa, Ana Tetap Indonesia

01 September 2018

ACTNews, SOPPENG - “Ini, diminum dulu, ji,” ucap Haryana atau Ana (20), sambil meletakkan nampan berisi sirup dan kue bangkek di atas dipan depan rumahnya. Rumah sederhana satu lantai yang di halamannya ditanami pohon pepaya dan cokelat. Melihat kami tidak bergerak, Ana berinisiatif membukakan toples kue bangkek dan meletakkannya di atas tutup. Tapi ia tetap mempersilakan kami makan lebih dahulu.

Logat Ana tidak bisa dibedakan dari logat Bugis. Ia juga menggunakan berbagai partikel khas Bugis dan Makassar seperti “ji” dan “mi.” Hampir semua temannya adalah orang asli Bugis dan Makassar, ia mengobrol dalam kedua bahasa itu, dan makanan favoritnya pun topalada. Dari luar, Ana persis orang Bugis.

Tapi ketika ditanya ia mengidentifikasi diri sebagai apa, Ana mantap menjawab, “Saya orang Jawa karena orang tua saya Jawa.”

Ya, Sokidi dan Sumirah, kedua orang tua Ana, memang berasal dari Trenggalek, Jawa Timur. Mereka mengobrol dengan satu sama lain dalam bahasa Jawa Timur yang khas, dan menunjukkan kehangatan pada kami, tim Global Qurban - ACT. Gestur mereka menunjukkan kerinduan pada tanah tempat mereka lahir dan tumbuh, tanah yang mereka tinggalkan satu dekade lalu.

Keluarga Ana merupakan salah satu keluarga transmigran di Desa Selomenlareng, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Berjarak empat jam perjalanan dari kota Makassar, desa ini dulunya kosong, hanya berupa lahan pertanian yang terabaikan karena rasionya yang tidak seimbang dengan jumlah pemilik.

Pada 2004, pemerintah membeli lahan-lahan ini dari penduduk asli untuk diberikan secara cuma-cuma kepada mereka yang sukarela mengikuti program transmigrasi dari Pulau Jawa ke Pulau Sulawesi. Melihat kesempatan untuk berkembang yang lebih besar di tanah rantau, keluarga Ana pun berpartisipasi.

“Saya, bapak, ibu, dan dua kakak saya pindah tahun 2005. Saya masih SD waktu itu,” kenang Ana, sesekali memainkan pita daster batiknya.

Ana mengakui, butuh perjuangan untuk beradaptasi di Pulau Sulawesi. Pada awalnya, ia tidak mengerti apa yang dikatakan teman-temannya yang kerap menggunakan bahasa Bugis atau Makassar untuk berinteraksi sehari-hari. Rasa makanan Sulawesi juga asing untuk lidah Jawa-nya yang terbiasa mencecap rasa manis. Belum lagi harga makanan dan jajanan yang biasanya di Jawa murah, mendadak melambung tinggi di pulau ini.

“Di sini, semua serba mahal. Saya sampai kaget waktu itu, baso paling murah harganya bisa 15 ribu, padahal di Jawa juga dapat 5 ribu,” Ana tertawa.

Ia mulai lancar berbahasa Bugis menjelang SMP. Di bangku SMA, ia sudah bisa bergaul seperti anak Sulawesi lainnya dengan teman-temannya. Meski terkadang, tetap saja, terkadang rasa teralienasi tidak bisa sepenuhnya dihapus dari hati.

“Di SMA, kami sering nonton sinetron atau film bersama. Teman-teman saya biasanya protes, ‘Kenapa artis-artis itu kebanyakan orang Jakarta? Bahkan saat ada peran orang desa pun, yang diambil ya orang Jawa atau Sunda, padahal kan di Sulawesi ada orang desa juga.’ Hal seperti itu nggak pernah saya perhatikan sebelumnya. Teman-teman saya juga biasanya langsung meledek saya yang orang Jawa,” cerita Ana.

Batas itu tetap ada. Bukan hanya teman-teman Bugis-nya, orang tua Ana pun menarik batasan itu. Tamat SMA, Ana menikah dengan suaminya yang juga berasal suku Jawa.

“Suami saya juga dari Trenggalek, tapi kota. Saya nggak diizinkan menikah dengan orang Bugis. Budayanya terlalu beda, kata orang tua,” Ana menjelaskan.

Batas yang didasarkan pada identitas tanpa sadar kita ciptakan setiap waktu. Namun, di saat-saat tertentu, batas tersebut ditembus. Dalam kasus Ana, momen itu terjadi setiap tanggal 17 Agustus, di Hari Kemerdekaan Indonesia. Semasa SMA, ia suka mengibarkan bendera merah-putih di atas gunung bersama teman-temannya. Kemarin, ia giat menghias desa dan berlomba melawan ibu-ibu desa.

“Kami menang lho, lomba voli melawan ibu-ibu. Maklum sih, kami kan masih muda,” kata Ana bersemangat. Di saat-saat seperti itu, statusnya sebagai generasi kedua transmigran dikesampingkan. Kontribusinya dalam tim untuk memenangkan perlombaan 17 Agustus-an sangat diperhitungkan. Ia bukan lagi orang Jawa atau Bugis, melainkan orang Indonesia.

Di tengah obrolan, Ana berulang kali berdiri, berusaha mengawasi anaknya yang asyik menonton proses pemotongan hewan kurban. Sebetulnya, sapi milik Sokidi, ayah Ana yang merupakan peternak, yang disembelih untuk dibagikan kepada masyarakat desa yang masih prasejahtera. Sapi jantan indukan ini sebetulnya ingin mereka jaga, bukan jual.

“Nggak apa, yang penting orang sini bisa merasakan kurban lagi. Habis, belum ada yang berkurban tahun ini. Dari tahun ke tahun pun, kurbannya kambing. Saya kurang suka kambing, suami apalagi,” jelas Ana sambil tertawa.

Sapi milik Sokidi, peternak lokal, memang dibeli Global Qurban - ACT Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk dibagikan kepada komunitas transmigran di Desa Tellulimpoe. Sebanyak 42 keluarga menerima daging sapi itu, termasuk keluarga Ana. Semua orang bergembira, karena akhirnya bisa kembali makan daging.

Ditanya penganan apa yang ingin dimasaknya dari daging itu, Ana berpikir sejenak. “Topolada, sate, rawon. Semua makanan, Bugis dan Jawa. Selama dagingnya cukup. Agar semua orang bisa makan bersama.” []

Berita Lainnya

14 September 2018

Sekali Lagi, Mengetuk Pintu Gaza di Hari Lebaran Kurban

ACTNews, GAZA - Bertemu Agustus, bersua Dzulhijah 1439 H, bagi miliaran Muslim di dunia berarti menyambut datangnya lebaran yang paling…

12 September 2018

Penjelajahan Baru Global Qurban sampai ke Uganda

ACTNews, MBALE – Tahun berganti, pengalaman bertambah, amanah makin membesar, penjelajahan harus bertambah luas. Prinsip inilah yang dijaga kelanjutannya oleh…

01 September 2018

Mengenal Kehidupan Transmigran di Soppeng

ACTNews , SOPPENG – Dengan rumput dan semak terhampar bagai permadani di kanan dan kiri, jalanan berbatu, dan hewan gembala…

01 September 2018

Keceriaan di Tengah Duka Danau Tempe

ACTNews , WAJO – Mata Abi menyipit menahan sinar matahari selagi kepalanya mendongak ke atas. Ia berusaha melihat lebih baik…

31 August 2018

Harapan Hamria, Guru Mengaji di Pedalaman Sulawesi

ACTNews , LUWU – Terpal biru penuh debu itu menjadi ruang percakapan Hamria dan kedua anaknya. Sambil mengobrol ringan, mereka…

Alamat Global Qurban

Kantor Pusat

Menara 165, lantai 11,
Jl. TB. Simatupang Kav. 1, Cilandak Timur
Jakarta Selatan, 12560, Indonesia
Ph. +62 21 2940 6565, Fax. +62 21 2940 6564

Kantor Pendukung

Perkantoran Ciputat Indah Permai
Blok B 8-9
Jl. Ir. H. Juanda no. 50, Ciputat, 15419, Indonesia
Ph. +62 21 741 4482,
Fax. +62 21 742 0664
Jl. Tgk. H. M. Daud Beureueh No. 46, Kota Banda Aceh, Aceh, Kode Pos 23126.
Ph. +62 852 1000 1226
SMS Center +62 852 1000 1226
Email actaceh2017@gmail.com
Jl. Al Falaah Raya No.3, Kel. Glugur Darat I Kec. Medan Timur,>br> Kota Medan, Sumatera Utara, Kode Pos 20239.
Ph. 061 4206 6885
SMS Center 085210001160, Call/WA 081377228820
Email act.medan@act.id
Jl S.Parman No.170, Ulak Karang Selatan, Kota Padang,
Sumatera Barat 25134
Ph. 0751 897 1974
SMS Center 0811 668 0074
Email actsumbar@gmail.com
Ruko Panam Raya Permai Jl. H.R.Subrantas No. 84 C, Kel. Delima, Kec. Tampan,
Kota Pekanbaru, Riau, Kode Pos 28294.
Ph. 0761 670 2240
SMS Center 0813 6506 0799
Email act.pekanbaru@act.id
Jl. Jenderal Soedirman km.3,5 No. 3268, Ilir Timur 1, Seberang SMAN 3,
Kota Palembang, Sumatera Selatan, Kode Pos 30129.
Ph. 08136900 7979
SMS Center
Email act.palembang@act.id
Jl. Gitar No. 21 RT 02 RW 10 Kelurahan Turangga
Kecamatan Lengkong, Kota Bandung.
Ph. 022 7328 0430
SMS Center +62 822 1400 1200
Email act.bandung@act.id
JL. Karangrejo No 124 A Rt 004 Rw 002
Kel. Karangrejo, Kec. Gajahmungkur, Semarang, Jawa Tengah 50234
Ph. 0812 3423 4514
SMS Center 0853 1199 9930
Email act.semarang@act.id
Jalan Gayungsari Barat X/41, Kelurahan Gayungan, Kecamatan Gayungan, Kota Surabaya, Jawa Timur, 60235
Ph. 031 8290 570
SMS Center +62 853 1112 8822
WA 0823 3444 0812
Email act.surabaya@act.id
Perum Tiara Mas Nitikan kav A1, Jl. Nitikan Baru, Sorosutan,
Umbulharjo Yogyakarta, Kode Pos 55162.
Ph. 0274 388 572
SMS Center 0851 0313 4440
Email act.yogyakarta@act.id, actdiy@gmail.com
Jl. Sultan Alauddin, Alauddin Plaza, Ruko SSH No.8,
Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kode Pos 90221
Ph. 0411 898 6113
SMS Center 0852 1000 5667
Email act_sulsel@act.id
Jl. Muhammad Hatta No 133. Kelurahan Lolu Utara. Kecamatan Palu Selatan Kota Palu, 94112
Ph. 0813 9852 1206
SMS Center 0822 1000 9761
Email act.palu@act.id
Jl. Jendral Sudirman No. 73 E Pahoman, Bandar Lampung - 35118
Ph. 0721-560 7053
SMS Center +62 878-8627-0035
Email act.lampung@act.id
Jl. Sriwijaya No. 80J Kel. Pagesangan Timur, Kec. Mataram Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat
Ph. 0811 3999 466
SMS Center
Email act.lombok@gmail.com
Komplek Khazanah Plaza Blok RA No. 19 Sukajadi – Batam
Telp: 0778 4883669
SMS 0852 1000 5622
WA 0812 6643 8743
Email act.kepri@act.id
Pertokoan Ciliwung Indah 10 Kav.5, Kel. Purwantoro, Kec. Blimbing, Malang, Jatim, 65122
Telp : 0821 4343 2212
Sms center : 0852 1000 1245
Telp kantor : 0341 410331
email : act.malang@act.id
Jl A. Yani km. 5,5 No. 49 Rt. 23 Rw. 02, Kelurahan Pemurus Luar, Kecamatan Banjarmasin Timur, Banjarmasin, 70249 Kalimantan Selatan 90221
Sms center : 0851 1000 8056
Wa : 0813 9549 9028
Email : act.kalsel@act.id
Jl. Jend. A. Yani NO 278 C Solo 57139
TLP 0856-4099-6282
Jl. Mt. Haryono RT. 013, kel. Damai Baru.
Ruko samping optik matta. Balikpapan. Kaltim
TLP 0852-5158-1988

Layanan Jemput Donasi Kurban

WHATSAPP
0813 7000 2900

SMS Center
0853 3000 6000

Mitra GlobalQurban